Sementara yang Ada
Aku lupa kapan tepatnya pertama kali mengenalnya. Tapi mungkin, momen paling pertama itu terjadi di kantin kampus—waktu dia, seorang perempuan dengan ransel besar di punggung, menumpahkan gelas kopinya di mejaku, saat aku sedang duduk sendirian.
Gelas itu tidak pecah, hanya air kopi yang mengalir cepat ke arah bukuku yang terbuka. Dia panik, wajahnya merah, lalu buru-buru mengelap bekas tumpahan itu dengan tisu seadanya.
“Maaf banget! Aku kira mejanya kosong…” ucapnya gugup, suaranya agak bergetar.
“Enggak apa-apa,” jawabku singkat, walau jujur aku kesal.
Setelah meminta maaf beberapa kali, dia pergi. Aku mengira itu akhir dari cerita. Tapi ternyata, tidak.
Beberapa hari kemudian, aku melihatnya lagi. Kali ini di taman kampus, duduk di bawah pohon sambil membaca. Aku hanya melirik sekilas dan berlalu.
Lalu suatu hari, kami bertemu kembali dalam kelompok tugas mata kuliah umum-Bahasa Indonesia. Ternyata kami satu angkatan, tapi beda jurusan.
Dia tersenyum kikuk saat tahu kami satu kelompok. “Aku... yang waktu itu di kantin,” katanya.
Aku tertawa kecil. “Iya, si tumpah kopi.”
Sejak saat itu, kami mulai sering ngobrol.
Kadang karena tugas, kadang cuma saling melempar komentar ringan saat bertemu. Lama-lama, jadi terasa biasa. Kami punya arah jalan pulang yang hampir sama, jadi sering juga bareng jalan kaki dari fakultas ke gerbang. Kadang mampir ke taman kampus dulu, beli cilok, ngobrol, lalu lanjut jalan.
Kami bukan teman yang akrab sejak lama. Bukan juga dua orang yang punya banyak kesamaan. Tapi ada sesuatu dalam diri Raya-nama perempuan itu-yang membuatku merasa... tenang.
Obrolan kami selalu sederhana. Tentang dosen killer, tentang tukang gorengan langganan, tentang kenapa kucing di kampus makin banyak.
Tidak pernah ada janji ketemuan. Tapi entah kenapa, selalu saja ketemu dan duduk bareng. Kalau dia duluan duduk di taman, aku bakal nyusul. Kalau aku duluan nongkrong di kantin, dia tiba-tiba datang bawa makanan ringan.
Beberapa teman mulai bertanya.
“Kalian pacaran?”
“Jadi juga, ya?”
“Fix jodoh nih.”
Aku dan dia cuma saling pandang dan tertawa. Tidak ada satu pun dari kami yang menganggap hubungan ini harus diberi label.
Kami tahu, kami hanya teman. Tapi bukan teman biasa—lebih dari sekadar kenal, tapi juga tidak melangkah ke arah romansa. Kami punya batas, dan sama-sama menghargainya.
Mungkin karena itu justru nyaman.
Mungkin karena tidak berharap lebih, kami bisa benar-benar jujur jadi diri sendiri.
Dan untuk saat ini... itu sudah cukup.
Waktu terus berjalan. Tiba-tiba saja empat semester terakhir terasa seperti kilasan cepat dari film dokumenter-penuh tawa, tugas, begadang, dan obrolan tak penting yang kami ulang-ulang tapi tak pernah bosan.
Aku dan Raya masih seperti dulu. Sering duduk di taman kampus sepulang kuliah, makan tahu crispy atau es teh gelas dua ribuan. Kadang hanya duduk diam, saling meminjam headset, mendengarkan lagu dari satu ponsel yang sama. Kadang juga berjalan kaki di koridor kampus sore hari, menghindari jam sibuk motor yang bising.
Kami tetap sama. Tapi suasananya... mulai berbeda.
Aku mulai merasakannya saat hari-hari terakhir kuliah datang. Saat teman-temanku mulai sibuk mengurus skripsi, mengisi formulir wisuda, dan berkutat dengan transkrip nilai.
Pancaran dari
Anonim
Sudut Transmisi
Buka kunci frekuensi untuk meninggalkan jejak. Masuk
Belum ada interupsi di frekuensi ini. Jadilah yang pertama.