Sementara yang Ada
Ia datang. Duduk di bangku undangan. Tersenyum saat aku naik ke podium. Tapi setelah itu… kami tak sempat bicara. Entah kenapa terasa canggung. Mungkin karena kami berdua sama-sama tahu, waktu kami tinggal sebentar lagi.
Malamnya, aku mengirim pesan pendek.
“Bisa ke taman bentar?”
Butuh beberapa menit sampai ia membalas.
“Oke. Setengah jam lagi, ya.”
Dan seperti biasa, aku datang lebih dulu. Duduk di bangku panjang yang biasa kami pakai saat makan cilok atau ngobrolin drama kuliah.
Langit malam itu bersih. Bintang-bintang terlihat jelas. Angin malam menyapu dedaunan, dan taman itu hampir kosong.
Tak lama kemudian, Raya datang dengan jaket abu-abu dan rambut diikat sederhana. Ia membawa dua minuman kotak.
“Kayaknya ini minuman terakhir kita bareng di sini,” katanya, menyodorkan satu padaku.
Aku mengambilnya. Tersenyum kecil.
“Makasih. Masih inget aja minuman kesukaanku.”
Kami duduk diam sebentar. Menikmati udara. Menikmati keheningan.
Lalu, seperti sudah jadi rutinitas, kami mulai membicarakan hal-hal sederhana.
Tentang tukang cilok yang sudah jarang muncul. Tentang dosen killer yang akhirnya pensiun. Tentang lagu yang dulu sering kami dengar sambil nugas.
“Lucu ya,” kata Raya.
“Apa?”
“Dulu kita nggak kenal. Sekarang malah jadi teman yang paling sering bareng.”
Aku tersenyum. “Semuanya dari kopi tumpah.”
Kami tertawa kecil.
Lalu, keheningan itu datang lagi. Tapi kali ini bukan canggung.
Ini hening yang berat. Penuh hal yang ingin dikatakan tapi tak tahu harus mulai dari mana.
“Kamu udah siap berangkat?” tanya Raya.
“Sudah. Cuma... ya, agak berat juga.”
“Karena Jepang?”
“Bukan. Karena ninggalin yang kayak gini.”
Raya menatap lurus ke depan. Tidak menjawab. Tapi aku tahu dia mengerti maksudku.
“Setelah ini... kita masih bisa ngobrol kayak dulu nggak, ya?” katanya pelan.
Aku tidak tahu jawabannya.
Kami bukan pacar. Tidak ada komitmen. Tidak ada ikatan. Tapi rasa ini... lebih dari sekadar teman.
“Kita cuma teman, ya,” ulang Raya.
Aku mengangguk.
“Iya. Tapi teman yang… susah ditinggalin.”
Suasana kembali hening. Lalu aku membuka playlist di ponselku dan memutar lagu yang dulu pernah kami dengarkan bareng saat nugas malam-malam.
Ia mengenalnya. Tersenyum pelan.
“Kalau nanti kamu rindu,” kataku,
“dengerin lagu ini.”
Raya tidak menjawab. Tapi ia menyandarkan kepalanya ke bahuku untuk pertama kalinya.
Tak ada kata cinta. Tak ada janji. Tapi itu cukup.
Beberapa hari setelah malam itu, aku berangkat.
Tidak ada drama di bandara. Tidak ada pelukan atau air mata. Aku dan Raya sepakat untuk tidak mengantar satu sama lain.
Katanya, “Kalau kita pamit di tempat kita biasa, rasanya lebih cukup.”
Dan aku mengerti maksudnya.
Hari-hari baruku di negeri orang dimulai. Kota asing, bahasa asing, rutinitas baru. Tapi di sela kesibukan yang padat, ada satu waktu di malam hari yang selalu terasa kosong.
Waktu di mana, kalau aku masih di kampus dulu, mungkin kami sedang duduk berdua di taman.
Minum teh kotak. Dengarkan lagu yang sama. Diam dalam nyaman.
Kadang aku mendengar lagu itu lagi. Lagu yang dulu kuputar di malam terakhir. Lagu yang jadi “kode” kecil kami berdua.
Entah apakah Raya masih ingat.
Entah apakah dia juga mendengarkannya di sana.
Pancaran dari
Anonim
Sudut Transmisi
Buka kunci frekuensi untuk meninggalkan jejak. Masuk
Belum ada interupsi di frekuensi ini. Jadilah yang pertama.