Sementara yang Ada
Sementara itu, aku-yang dari awal kuliah memang dikejar target beasiswa luar negeri oleh dosen pembimbingku-sudah menyelesaikan semua syarat lebih dulu. Nilai kumulatifku aman. Skripsi selesai. Administrasi beres.
Dan sekarang, aku sedang menunggu keberangkatan.
Satu minggu setelah yudisium, aku akan berangkat ke Jepang untuk melanjutkan studi master. Tawaran beasiswa yang tak bisa kutolak. Impian lama yang akhirnya tercapai.
Tapi justru di titik inilah... aku merasa ada yang ganjil.
Raya masih belum lulus. Ia sedang menyusun proposal skripsinya. Kadang masih curhat soal revisi dari dosennya, kadang panik karena pengumpulan berkas.
Tapi sejak aku resmi dinyatakan lulus, ada jeda kecil dalam obrolan kami. Seperti ruang kosong yang tak ingin disentuh.
Bukan karena kami menjauh. Tapi karena kami sadar perpisahan itu dekat, dan kami belum tahu harus bagaimana.
Sore itu, kami duduk di taman kampus seperti biasa. Langit mulai jingga. Burung-burung terbang melintasi atas kepala kami, dan suara angin pelan menyapu daun-daun kering yang jatuh.
Aku membawa dua botol teh dingin. Ia sedang menggigit gorengan.
Kami tidak banyak bicara. Lalu, akhirnya Raya membuka suara.
“Kamu jadi berangkat minggu depan?”
Aku mengangguk. “Iya.”
“Berapa lama?”
“Dua tahun.”
Ia mengangguk pelan. Matanya tak berpaling dari langit yang mulai gelap.
“Nanti... kita masih bisa ngobrol kayak gini nggak, ya?” tanyanya pelan.
Aku terdiam. Pertanyaan itu seperti menusuk bagian yang selama ini kutahan.
Aku juga ingin tahu jawabannya. Aku juga bingung.
Kami bukan siapa-siapa. Tidak pacaran. Tidak ada status yang bisa dipertahankan. Tapi juga tidak bisa dengan mudah saling melepaskan.
“Kita cuma teman, ya,” katanya lagi.
“Iya. Cuma teman,” jawabku pelan.
Tapi kenapa rasanya berat sekali untuk hanya pergi begitu saja?
Beberapa hari kemudian, aku berdiri di podium wisuda, mengenakan toga, menerima sertifikat kelulusan. Teman-temanku tertawa dan berfoto. Semua penuh sukacita.
Raya duduk di antara para penonton, tersenyum sambil mengangkat ponsel untuk memotret. Aku melihatnya, dan untuk sesaat waktu terasa berhenti.
Aku ingin menghampirinya saat itu juga. Ingin berkata bahwa aku takut—takut ini jadi pertemuan terakhir, takut semua berubah saat aku pergi.
Tapi tidak ada kata yang keluar. Hanya senyuman. Hanya isyarat yang tidak pernah dijelaskan.
Hari terus berjalan menuju keberangkatanku. Semakin dekat, semakin kuat rasa asing itu tumbuh di antara kami. Bukan karena menjauh, tapi karena kami tak tahu harus menggenggam apa.
tidak ada komitmen. Tidak ada janji. Tidak ada label. Tapi ada rasa yang diam-diam tumbuh dan sulit dijelaskan.
Dan mungkin... kami berdua sebenarnya tidak ingin perpisahan ini jadi akhir dari segalanya.
Wisuda itu berjalan seperti yang seharusnya. Ramai, penuh foto, tawa, dan bunga. Semua orang mengenakan toga, berlari dari satu teman ke teman lain untuk selfie, memeluk dosen, dan sibuk mengunggah momen ke media sosial.
Aku berdiri di tengah-tengah itu semua, memegang map biru tua berisi ijazah, senyumku mengembang… tapi tidak penuh. Mataku mencari satu wajah di antara kerumunan—Raya.
Pancaran dari
Anonim
Sudut Transmisi
Buka kunci frekuensi untuk meninggalkan jejak. Masuk
Belum ada interupsi di frekuensi ini. Jadilah yang pertama.