Sementara yang Ada
Suatu hari, saat membuka email lama, aku melihat satu pesan baru masuk dari nama yang familiar.
Raya.
Isinya tidak panjang.
“Hari ini aku duduk lagi di taman kita. Nggak ada cilok, tukangnya udah pindah. Tapi lagu itu masih ada. Aku putar pelan-pelan.”
“Sampai sekarang, aku masih nggak tahu kamu itu apa buatku. Tapi makasih ya… karena pernah ada.”
Aku membaca pesan itu berulang-ulang. Lalu menutup laptopku pelan, menatap ke luar jendela kamar asrama.
Malam di sini dingin, dan bintang-bintang jarang muncul. Tapi anehnya, aku merasa hangat.
Kami masih saling mengabari sesekali. Kadang cerita pendek. Kadang hanya satu foto minuman kotak. Kadang… tidak ada kabar berminggu-minggu.
Tapi aku tidak pernah merasa benar-benar jauh.
Karena beberapa orang tidak harus digenggam erat-erat.
Cukup disimpan baik-baik dalam ingatan.
Dan mungkin... nanti, entah kapan, kami akan bertemu lagi.
Atau tidak.
Dan itu juga tidak apa-apa.
Pancaran dari
Anonim
Sudut Transmisi
Buka kunci frekuensi untuk meninggalkan jejak. Masuk
Belum ada interupsi di frekuensi ini. Jadilah yang pertama.